penelitian optimasi temperatur yang
Penelitian Optimasi Suhu dalam Proses Fermentasi Tempe
Fermentasi tempe merupakan salah satu proses bioteknologi tradisional yang memerlukan kontrol suhu yang tepat untuk menghasilkan produk berkualitas. Suhu yang tidak sesuai dapat memengaruhi pertumbuhan kapang *Rhizopus oligosporus*, mikroorganisme utama dalam pembuatan tempe. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rentang suhu optimal yang mendukung aktivitas kapang sekaligus mencegah kontaminasi bakteri.
Metode yang digunakan meliputi fermentasi tempe pada berbagai suhu, yaitu 25°C, 30°C, 35°C, dan 40°C. Parameter yang diamati meliputi kecepatan pertumbuhan miselium, tekstur tempe, kadar protein, serta keberadaan mikroba kontaminan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu 30–35°C merupakan kondisi terbaik untuk fermentasi tempe. Pada rentang ini, kapang tumbuh dengan cepat dan menghasilkan tekstur tempe yang padat serta aroma khas yang diinginkan.

Suhu di bawah 25°C memperlambat pertumbuhan miselium, sedangkan suhu di atas 40°C berisiko menyebabkan denaturasi protein dan meningkatkan pertumbuhan bakteri patogen. Selain itu, kelembaban ruangan juga perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap proses fermentasi. Dengan mengoptimalkan suhu dan kelembaban, kualitas tempe dapat ditingkatkan secara signifikan.
Pengaruh Suhu Terhadap Kualitas Yogurt Probiotik
Yogurt probiotik merupakan produk fermentasi susu yang mengandung bakteri menguntungkan seperti *Lactobacillus bulgaricus* dan *Streptococcus thermophilus*. Proses pembuatannya sangat bergantung pada kontrol suhu selama inkubasi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu terhadap viabilitas bakteri probiotik serta karakteristik sensori yogurt.

Eksperimen dilakukan dengan menginkubasi campuran susu dan starter pada suhu 37°C, 40°C, dan 43°C selama 6–8 jam. Hasilnya menunjukkan bahwa suhu 40°C memberikan hasil terbaik dengan jumlah bakteri hidup tertinggi dan tingkat keasaman (pH) ideal sekitar 4,5–4,6. Yogurt yang di
